
CDN, Seteluk– Langkah awal menuju modern farming resmi dimulai di Desa Seteluk Tengah, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Kelompok Tani Ternak (KTT) Burely Farm menjadi pionir dalam penanaman perdana rumput gajah—fondasi utama dalam skema penggemukan sapi pedet berbasis agribisnis.
Program ini bukan sekadar tanam pakan, melainkan bagian dari grand design KSB Maju Luar Biasa klaster peternakan. Dengan pendekatan terukur dan sistematis, pemerintah daerah memastikan setiap tahapan berjalan sesuai roadmap.
Penanaman perdana ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pertanian KSB, Jamilatun, S.P., M.M.Inov. Staf Ahli Bupati, H. Wahidin, Kepala Bidang Peternakan, Amiruddin, KCD Peternakan Seteluk dan jajaran serta Babinkamtibmas Desa Seteluk Tengah Ardian. Di sela kegiatan, Jamilatun menegaskan bahwa pola tanam dilakukan bertahap (step by step) untuk menjaga keberlanjutan stok pakan.

“Dalam satu minggu ditargetkan 1 hektare, lalu dilanjutkan minggu berikutnya. Ini strategi agar panen bisa bergilir, jadi tidak ada istilah overstock atau kekurangan pakan,” jelas Jamilatun.
Ia menambahkan, rumput yang ditanam hari ini diproyeksikan siap panen dalam tiga bulan ke depan. Ini menjadi syarat utama sebelum sapi pedet didistribusikan pada Juli mendatang.
Tak hanya pakan, pemerintah juga menyiapkan support system lengkap: mulai dari sumur bor, kandang, hingga bangunan pakan. Semua ditargetkan ready to use pertengahan tahun ini.
Yang menarik, program ini mengusung pendekatan smart farming. Pemerintah akan memanfaatkan aplikasi digital untuk memantau perkembangan sapi secara real time. Setiap ternak akan diberi identitas khusus, sehingga berat badan dan pertumbuhannya bisa dipantau secara akurat.

“Aplikasi ini akan jadi control system. Jika ada penurunan bobot, langsung terdeteksi dan ditangani oleh fasilitator,” ujar Jamilatun.
Untuk memastikan keberhasilan, pendampingan dilakukan secara berlapis. Tiga fasilitator (kesehatan hewan, budidaya ternak, dan fasilitator pakan ternak) akan ditempatkan di tiap kecamatan. Mereka bahkan akan mendapat pelatihan dari tenaga ahli Universitas Mataram.
Tak hanya itu, pengawasan juga melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Tujuannya jelas: menjaga program tetap on track dan meminimalisir penyimpangan.
Dari sisi bisnis, program ini menjanjikan high return. Sapi pedet berbobot awal sekitar 100 kg ditargetkan mencapai 200 kg dalam waktu tujuh bulan, dengan kenaikan bobot harian 0,6–0,8 kg.
Dengan harga beli sekitar Rp6 juta dan potensi jual Rp12–13 juta per ekor, margin keuntungan bisa mencapai dua kali lipat. Jika dikelola dalam skala besar, potensi cash flow kelompok pun semakin menjanjikan.

Ketua KTT Burely Farm, Hartati Asmad, mengaku optimistis. Dengan lahan seluas 3,47 hektare yang dikelola secara terpadu (mulai dari rumput gajah, tumpang sari, area Nina Padi, kolam air deras hingga area kandang) ia yakin kelompoknya bisa menjadi role model.
“Ini bukan hanya soal ternak, tapi perubahan mindset. Dari pola lama ke sistem yang lebih modern dan terarah,” ungkapnya.
Hartati juga menilai pendekatan pemerintah yang tidak langsung menyalurkan sapi, melainkan memastikan kesiapan pakan, sebagai langkah cerdas.
“Ini pola yang sangat ideal. Pakan siap dulu, baru ternak masuk. Jadi program ini benar-benar terencana, bukan instan,” tegasnya.
Dengan konsep terintegrasi, dukungan penuh pemerintah, serta sentuhan teknologi, Burely Farm kini berada di jalur cepat menuju sentra peternakan modern di Sumbawa Barat. Tinggal satu hal yang diuji: konsistensi di lapangan. (cdn.wan)






