Stand-by 24 Jam, Pendampingan Total KSB Maju Percepat Kemandirian Peternak

Stand-by 24 Jam, Pendampingan Total KSB Maju Percepat Kemandirian Peternak

CDN, Sumbawa Barat — Program agribusiness development berbasis peternakan yang diusung Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melalui skema KSB Maju Luar Biasa mulai menunjukkan progres signifikan di lapangan. Sejumlah Kelompok Tani Ternak (KTT) yang tergabung dalam program Agribisnis Penggemukan dan Pembibitan Sapi Bali kini bergerak cepat melakukan land preparation hingga penanaman rumput gajah sebagai bagian dari strategi penyediaan pakan berkelanjutan (sustainable feed system).

Di berbagai wilayah KSB, para anggota KTT secara kolektif mengolah lahan dan menanam rumput gajah yang menjadi key factor dalam mendukung produktivitas sapi Bali. Bahkan, Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, turun langsung ke lapangan bersama Kepala Dinas Pertanian, Jamilatun, S.P., M.M.Inov, untuk melakukan penanaman di KTT Ai Nusak, Kecamatan Sekongkang. Kehadiran pimpinan daerah ini menjadi strong signal bahwa program tersebut bukan sekadar distribusi bantuan ternak, melainkan end-to-end program yang mengedepankan pendampingan intensif dan pengawasan berkelanjutan.

Pendekatan hands-on management juga diterapkan oleh Dinas Pertanian sebagai leading sector. Melalui monitoring rutin, rapat koordinasi (coordination meeting), serta inspeksi lapangan, perkembangan setiap KTT terus dievaluasi secara mingguan. Kepala Dinas Pertanian, Jamilatun, bahkan menginstruksikan seluruh tim teknis—mulai dari KCD Peternakan, fasilitator kecamatan, hingga penyuluh pertanian—untuk aktif melakukan field assistance dan memastikan setiap tahapan program berjalan sesuai roadmap.

Salah satu contoh implementasi di lapangan terlihat pada kegiatan poligon mapping di KTT Maju Bersama, Desa Meraran, Kecamatan Seteluk, Jumat (1/05/2026). Tim melakukan penentuan titik koordinat lahan berbasis data, mengevaluasi kesiapan kandang, serta memverifikasi progres kegiatan kelompok. Fasilitator Kecamatan Seteluk, drh. Erlina Septiyani, bersama Rika Kartini, S.Pt, dan penyuluh Syahril, S.P, turut memberikan technical briefing serta menyusun timeline activity sebelum distribusi sapi dilakukan.

Pendampingan yang diberikan tidak bersifat temporer. Tim bahkan berkomitmen untuk stand-by 24 jam demi memastikan KTT mampu mencapai kemandirian (self-sufficiency) dan menjadi model sukses program di daerah.

Ketua KTT Maju Bersama mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari pembersihan lahan hingga pemasangan pagar. Penanaman rumput gajah dilakukan secara bertahap dengan target 1 hektare per minggu. Sistem ini sengaja diterapkan untuk menghindari over supply pakan yang dapat berdampak pada efisiensi pengelolaan.

Menariknya, komitmen para anggota KTT tidak hanya terlihat dari tenaga, tetapi juga kontribusi finansial. Beberapa kelompok bahkan rela menggunakan dana pribadi untuk melengkapi fasilitas yang belum tersedia. Langkah ini menjadi real commitment dalam mendukung keberhasilan program unggulan daerah.

Kepala Dinas Pertanian, Jamilatun, mengaku bangga dengan capaian tersebut. Ia menegaskan bahwa program peternakan KSB Maju masih berada di jalur yang tepat (on track), meskipun di fase awal menghadapi berbagai tantangan. Namun melalui effective communication dan kolaborasi yang solid, setiap kendala dapat diurai dengan solusi yang adaptif.

“Harapannya, KTT yang tergabung dalam program pembibitan sapi Bali ini bisa menjadi agent of change bagi pengembangan peternakan di KSB bahkan NTB,” ujarnya.

Dengan pendekatan terintegrasi dan semangat gotong royong, program ini diyakini mampu menjadi game changer dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memperkuat sektor agribisnis daerah. (cdn.wan)