CDN, Sumbawa Barat– Narkoba kini menjadi musuh utama negara dan menjadi musuh bersama seluruh masyarakat Indonesia. Peredaran barang haram ini sangat meresahkan dan menjadi bahaya laten bagi generasi muda bila tidak diberangus dan disikapi serius.
Baru-baru ini, Kapolda Nusa Tenggara Barat, melalui Direktur Reserse Narkoba Polda NTB, Kombes Pol Deddy Supriadi bahwa Indonesia saat ini berstatus darurat narkoba. Indonesia bukan hanya menjadi konsumen, tapi Indonesia sudah menjadi pasar dan produsen barang haram tersebut.
Atas kenyataan tersebut, media berhasil mengkonfirmasi Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sumbawa Barat (BNN KSB).
Kepala BNN KSB, Indah Poernomosari, SE., M.Ak Melalui Bidang Pembinaan dan Pemberdayaan Masyarakat, Ardiansyah, SE.,M.M pada media mengatakan bahwa Kabupaten Sumbawa Barat saat ini berstatus tanggap narkoba. Status ini berdasarkan skor yang diberikan oleh BNN pusat dengan angka 2,98.
Status tanggap narkoba berada diposisi tengah-tengah, posisi yang ideal adalah sangat tanggap narkoba. “Apabila sudah berstatus sangat tanggap darurat maka bisa diartikan peredaran narkoba di suatu daerah sangatlah minim dan hampir tidak ada. Untuk KSB saat ini masih berada di status tanggap atau jika diibaratkan lampu Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL), KSB ada di lampu kuning.” Pungkas Ardiansyah.
Dalam menekan dan memberantas narkoba, BNN KSB terus focus menjalankan program Desa Bersinar (Desa Bersih Narkoba). Tiap tahun ada 2 desa/kelurahan yang digodok dalam program Desa Bersinar.
“Dari Desa Bersinar, kita dapat menerapkan tiga tahapan sebagai upaya preventif mencegah narkoba. pertama Deteksi Ketahanan Diri (Diktari), Deteksi Ketahanan Keluarga (Diktara) dan ketiga Ketahanan skala Kabupaten.” imbuh Om Chan pria berdarah mbojo akrab disapa.
Kita sangat rendah di Deteksi Ketahanan diri. Lanjut Om Chan, ini mungkin disebabkan oleh mereka (pelajar, red) masih malu dalam mengisi kuisioner yang kita berikan dan pemahaman mereka tentang narkoba sangat rendah. Jujur, nilai kita sangat rendah dan turun ditahun ini. Sementara untuk Deteksi Ketahanan Keluarga (Diktara), poin kita sangat tinggi, ada di angka 99,8. Keinginan membentengi diri dalam keluarga sangat tinggi. Sementara untuk skala Kabupaten, kita ada diangka 2,98 dengan kategori tanggap.
Terakhir indeks kemandirian partisipasi, indeks kemandirian partisipasi ini berisikan institusi pemerintah seperti kejaksaan, pengadilan, TNI, Polri, BNN dan Instansi di Lingkup Pemkab Sumbawa Barat. Rata-rata institusi ini sudah mandiri dalam penanganan narkoba, mereka telah memiliki cara masing-masing membentingi diri dari bahaya narkoba.
Om Chan dalam pemaparannya menjelaskan jika Dalam menjalankan program Desa/Kelurahan bersinar masih ada kesulitan dan kendala, misalnya saja ketika satu desa atau kelurahan dicanangkan untuk diberikan program Desa/Kelurahan bersinar, mereka rata-rata menolak.
“Mereka takut dicap sebagai kampung narkoba, paradigma itu masih melekat dan barang tentu menghambat upaya memberantas narkoba. Belum tentu satu desa yang dicanangkan sebagai desa/Kelurahan bersinar menjadi lumbung narkoba atau pusat dari bandar narkoba,” imbuh Om Chan.
“Untuk itu, diharapkan semua institusi di KSB untuk berkolaborasi dalam memberantas narkoba, bekerjasama dalam memberikan pemahaman tentang program desa bersinar tersebut, agar setelah program ini selesai, desa/kelurahan dapat mandiri dari tahun sebelumnya.” tutup Ardiansyah, SE.,M.M. (cdn.wan)






