Warga Desa Tua Nanga Kabupaten Sumbawa Barat Merayakan Kemerdekaan Dengan Kondisi Terisolasi

Warga Desa Tua Nanga Kabupaten Sumbawa Barat Merayakan Kemerdekaan Dengan Kondisi Terisolasi

CDN, Sumbawa Barat– Sungguh menyedihkan kondisi masyarakat Desa Tua Nanga, Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat hari ini, seharusnya mereka merayakan kemerdekaan Republik Indonesia Ke 80 Tahun dengan riang gembira dan merasakan nikmatnya merdeka, justru keadaannya terbalik, mereka tidak dapat mengetahui informasi dan perkembangan kekinian akibat wilayah desanya tidak ada sinyal.

Salah satu warga Desa Tua Nanga, yang tidak mau disebutkan namanya pada media mengatakan bahwa dirinya sangat sedih dengan kondisi Desa Tua Nanga hari ini, jangankan membuka berita di handphone, menghubungi sanak saudarapun warga desa harus pergi ke desa lain. Menurutnya, pemerintah desa telah menghibahkan tanah untuk dibangunkan menara telekomunikasi (tower), namun tower tersebut tidak dapat berfungsi. Ini seharusnya ditanggapi serius oleh Pemerintah Daerah agar menemukan solusi.

“Sudah banyak anak-anak kami yang mencari kost di kota demi dapat berhubungan dengan dunia luar. Kami merasa sedih, dizaman yang sudah maju ini, kami justru seperti hidup dimasa kuda gigit besi. Ada pemerintah tapi sama seperti tidak ada,” ujarnya singkat.

Kami tidak mau mengkritisi pemerintah, namun tolong kabarkan informasi yang sebenar pada publik, agar pribahasa indah kabar daripada rupa dapat dihindari. Kami telah melakukan kewajiban, tolong penuhi hak kami sebagai warga Sumbawa Barat. Ujarnya

Buruknya sinyal komunikasi tidak saja terjadi di Desa Tua Nanga, keadaan serupa dialami pula oleh warga Desa Kelanir, Kecamatan Seteluk Kabupaten Sumbawa Barat. Jarak desa ini dengan ibu kota kabupaten (Taliwang, red) tidak terlalu jauh, cukup 10 menit bila menempuh perjalanan dari Kota Taliwang, kita sudah sampai di Desa Kelanir. Namun saat ini, mereka tidak dapat mendapatkan informasi gegap gempitanya perayaan HUT Ke-80 Republik Indonesia akibat tidak adanya sinyal di desa mereka. Adapun jika keadaan terdesak, mereka harus merogoh gocek membeli paket wifi untuk berhubungan dengan dunia luar. Informasi keadaan Desa Kelanir hari ini didapatkan media melalui salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kelanir. (cdn.wan)