TENUN KSB: JANGAN KEHILANGAN ARAH!

TENUN KSB: JANGAN KEHILANGAN ARAH!

Oleh: Irawansyah

TALIWANG, CDN – Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat sesungguhnya telah membangun fondasi yang cukup kuat dalam upaya melestarikan dan mengembangkan kain tenun daerah. Sebuah gagasan yang mulai dirintis kurang lebih tiga tahun lalu kini perlahan memperlihatkan dampak nyata. Tidak hanya bagi para penenun lokal, tetapi juga mulai membuka peluang pertumbuhan pada sektor perdagangan dan usaha lainnya.

Melalui keterlibatan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) bersama Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag), pemerintah daerah menghadirkan sebuah terobosan melalui kegiatan Fashion Show Pesona Tenun Sumbawa Barat 2026 dengan tema “Tenun Sumbawa Barat Mengangkat Kearifan Lokal Menuju Produk Fashion Berkelas dan Berdaya Saing”.

Kegiatan ini bukan sekadar peragaan busana. Lebih dari itu, ada upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap kain tenun. Sehelai kain yang selama ini identik dengan produk kerajinan tradisional mulai dikemas menjadi produk fashion yang memiliki nilai ekonomi, daya saing, dan peluang pasar lebih luas.

Langkah tersebut patut diapresiasi.

Pemerintah daerah telah membuka ruang, memberikan panggung, sekaligus memperlihatkan bahwa kain tenun Sumbawa Barat memiliki potensi untuk berkembang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.

Namun, apresiasi saja tidak cukup. Gagasan besar ini harus dijaga agar tidak kehilangan semangat dan tujuan awalnya.

Pada hari pembukaan Fashion Show Pesona Tenun Sumbawa Barat 2026, Wakil Bupati Sumbawa Barat, Hj. Hanipah, S.Pt., M.M.Inov., menyampaikan sebuah pesan yang sesungguhnya menjadi roh dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut.

“Pelestarian budaya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kita tidak hanya ingin tenun Sumbawa Barat dikenal sebagai identitas daerah, tetapi juga menjadi sumber penghasilan, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.”

Pernyataan tersebut bukan sekadar kalimat sambutan. Di dalamnya terdapat arah kebijakan yang harus dipahami dan diterjemahkan oleh seluruh perangkat teknis. Bahwa keberhasilan pelestarian tenun tidak cukup diukur dari seberapa sering kain tersebut dipamerkan, seberapa banyak pejabat mengenakannya, atau seberapa luas daerah ini dikenal.

Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan oleh para penenun.

Hal senada juga disampaikan Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, S.T., M.Si., pada hari penutupan kegiatan.

“Efek domino dari kegiatan seperti ini luar biasa. Saya dapat kabar OPD sudah memesan ke sana kemari, penjahitnya sudah dicari. Ini juga menghidupkan wastra kita, motif daerah ini bisa terus kita kembangkan.”

Dua pernyataan dari kedua pimpinan daerah tersebut memperlihatkan adanya semangat yang sejalan. Tenun tidak boleh berhenti sebagai simbol identitas dan kebanggaan daerah, tetapi harus mampu menggerakkan aktivitas ekonomi, menciptakan permintaan pasar, menghidupkan usaha penjahit, serta memberikan penghasilan bagi masyarakat.

Persoalannya sekarang, apakah seluruh jajaran pemerintah daerah benar-benar akan menjaga semangat tersebut?

Ruang sudah diberikan. Wadah sudah disiapkan. Kegiatan promosi sudah dilaksanakan. Bahkan, aturan untuk memperkuat pemanfaatan kain tenun tengah disiapkan.

Salah satu gagasan penting yang disampaikan Wakil Bupati adalah rencana penggunaan kain tenun oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) secara rutin. Apabila nantinya ditetapkan melalui Peraturan Bupati, kebijakan tersebut berpotensi menciptakan permintaan pasar yang lebih stabil.

Artinya, penggunaan tenun tidak lagi terbatas pada acara resmi, peringatan hari besar, atau kegiatan seremonial. Kain tenun dapat menjadi bagian dari aktivitas kedinasan setiap pekan.

Jika kebijakan ini berjalan konsisten, dampaknya bisa sangat besar. Para penenun memiliki kepastian pasar yang lebih baik, pelaku usaha kerajinan memperoleh peluang pengembangan, penjahit mendapatkan pekerjaan, dan masyarakat yang terlibat dalam rantai produksi hingga pemasaran ikut merasakan manfaatnya. Inilah substansi yang harus dijaga.

Saya justru khawatir, semangat membangun kekuatan ekonomi penenun di tingkat lokal akan kalah oleh godaan pujian dan ambisi promosi ke tingkat nasional.

Mengapa demikian?

Kita tidak boleh menutup mata bahwa sejumlah program pemerintah daerah yang pada awalnya memiliki gagasan dan tujuan baik, terkadang kehilangan konsistensi di tengah perjalanan. Ada semangat besar ketika program diluncurkan, tetapi keberlanjutan, pembinaan, dan penguatan di tingkat bawah justru tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Jangan sampai pengembangan tenun Sumbawa Barat mengalami nasib serupa.

Ketika pemerintah pusat memberikan apresiasi, ketika pihak ketiga menawarkan kesempatan promosi, atau ketika muncul undangan untuk membawa produk tenun ke panggung nasional, jangan sampai seluruh energi pemerintah daerah justru tersedot ke sana. Jangan sampai kebanggaan karena mendapat perhatian dari luar daerah membuat kita lupa bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan di dalam daerah sendiri.

Saya memiliki pandangan sederhana: saya berharap pemerintah pusat yang datang berkunjung ke Sumbawa Barat, bukan pemerintah daerah yang terus-menerus pergi ke pusat hanya untuk memamerkan tenun.

Buatlah pemerintah pusat tertarik untuk datang ke Sumbawa Barat.

Biarkan mereka melihat secara langsung bagaimana kain tenun daerah ini mampu menjadi ikon kebudayaan sekaligus mengangkat taraf hidup masyarakatnya.

Biarkan mereka melakukan studi banding, melihat proses produksi, mengunjungi sentra-sentra penenun, berdialog dengan para perajin, dan menyaksikan bagaimana sebuah kebijakan pemerintah daerah mampu menghidupkan ekonomi masyarakat.

Bukankah jauh lebih membanggakan jika pemerintah pusat datang karena keberhasilan yang kita bangun, bukan karena kita terus-menerus meminta panggung untuk memperkenalkan diri?

Untuk memamerkan produk ke tingkat nasional tentu membutuhkan biaya.

Ada anggaran perjalanan, akomodasi, persiapan kegiatan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Promosi bukan sesuatu yang salah, tetapi harus ditempatkan secara proporsional.

Coba bayangkan apabila sebagian anggaran yang digunakan untuk perjalanan promosi tersebut dialihkan untuk memperkuat pembinaan penenun, meningkatkan kualitas produksi, membantu pengadaan peralatan, mengembangkan desain dan motif, memperluas akses pasar, serta memperkuat kelembagaan Dekranasda.

Berapa banyak penenun yang bisa dibina? Berapa banyak kelompok usaha yang bisa diperkuat? Berapa banyak peluang ekonomi yang bisa diciptakan?

Saya tidak sedang menolak promosi ke tingkat nasional. Saya juga tidak sedang mengecilkan pentingnya memperkenalkan tenun Sumbawa Barat ke pasar yang lebih luas. Namun, promosi harus menjadi kelanjutan dari kekuatan yang sudah dibangun, bukan justru menggeser perhatian dari pekerjaan mendasar yang belum selesai.

Jangan sampai kita sibuk memperkenalkan tenun ke luar daerah, sementara persoalan penenun di dalam daerah belum sepenuhnya terjawab. Jangan sampai kain tenunnya semakin dikenal, tetapi kehidupan orang-orang yang membuatnya tidak mengalami perubahan berarti.

Tenun Sumbawa Barat membutuhkan pasar yang berkelanjutan, bukan sekadar panggung yang sesaat. Membutuhkan pembinaan yang konsisten, bukan hanya tepuk tangan dan pujian. Membutuhkan keberpihakan anggaran, bukan sekadar seremoni.

Karena itu, seluruh perangkat teknis harus memahami bahwa tugas mereka bukan hanya menyukseskan kegiatan Fashion Show Pesona Tenun Sumbawa Barat. Tugas yang jauh lebih besar adalah memastikan semangat yang disampaikan Bupati dan Wakil Bupati benar-benar diwujudkan dalam program kerja dan kebijakan yang menyentuh masyarakat.

Jangan pula sampai peluang promosi dan perjalanan ke luar daerah menjadi ruang bagi oknum pejabat untuk lebih menikmati fasilitas perjalanan daripada memikirkan keberlanjutan program. Setiap penggunaan anggaran harus memiliki tujuan yang jelas, hasil yang terukur, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.

Kita tentu tidak ingin program yang dibangun dengan gagasan besar dan harapan masyarakat justru kehilangan arah karena kepentingan yang tidak sejalan dengan tujuan awalnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan tenun Sumbawa Barat bukan diukur dari seberapa sering produk ini tampil di panggung nasional, bukan pula dari seberapa banyak pujian yang diterima pemerintah daerah.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika para penenun memperoleh penghasilan yang lebih baik, usaha kerajinan tumbuh, lapangan kerja terbuka, generasi muda tertarik melanjutkan tradisi menenun, dan masyarakat Sumbawa Barat bangga karena produk budayanya mampu memberikan kesejahteraan.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membawa tenun Sumbawa Barat keluar daerah, tetapi lupa membangun kehidupan orang-orang yang selama ini menjaga dan menghasilkan tenun tersebut.

Semoga gagasan besar ini tetap berada pada jalurnya.

Semoga semangat Bupati dan Wakil Bupati tidak berhenti sebagai kutipan dalam sambutan, tetapi benar-benar menjadi pedoman bagi seluruh perangkat daerah dalam bekerja.

Sebab, yang sedang kita bangun bukan sekadar popularitas kain tenun, melainkan masa depan ekonomi masyarakat Sumbawa Barat.

Penulis adalah Pimpinan Redaksi Media Online Central Dita News (CDN) dan Pimpinan Perusahaan PT Central Dita Group, yang menaungi Surat Kabar CDN dan Buletin Central Dita.