Sumbawa Barat, CDN – Polemik pelaksanaan Cabang Olahraga Kick Boxing pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026 memanas. Keputusan mendadak memindahkan venue pertandingan dari Kabupaten Sumbawa Barat ke Kota Mataram memicu gelombang protes. Tidak hanya itu, Ketua Kick Boxing Indonesia (KBI) Kabupaten Sumbawa Barat, Santri Yusmulyadi, ST, mengaku turut dipecat saat proses persiapan sebagai tuan rumah masih berlangsung.
Santri mengaku sama sekali tidak menyangka keputusan tersebut. Menurutnya, pengurus KBI Kabupaten Sumbawa Barat selama ini tengah fokus menyiapkan arena pertandingan beserta berbagai kebutuhan teknis agar pelaksanaan Kick Boxing di Porprov berjalan sukses.
“Saya sendiri kaget dengan adanya keputusan pemindahan venue pelaksanaan Porprov untuk Cabor Kick Boxing, termasuk saya dipecat sebagai Ketua KBI-KSB di saat sedang mempersiapkan,” ujar Santri kepada wartawan.
Politisi yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Barat itu mempertanyakan dasar keputusan tersebut. Ia meminta KONI NTB memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik, mengingat berbagai persiapan telah dilakukan selama beberapa bulan dengan melibatkan anggaran, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit.
Menurut Santri, alasan yang berkembang terkait faktor keamanan tidak memiliki dasar yang kuat. Ia menegaskan Kabupaten Sumbawa Barat selama ini dikenal sebagai salah satu daerah paling kondusif di Nusa Tenggara Barat dan bahkan tercatat sebagai daerah dengan zero horizontal conflict, sehingga dinilai layak menjadi tuan rumah berbagai agenda olahraga berskala provinsi.
Lebih jauh, Santri menduga polemik ini tidak terlepas dari persoalan pengelolaan anggaran. Ia menyebut kebijakan KONI Kabupaten Sumbawa Barat sejak awal menetapkan anggaran persiapan arena berada di bawah tanggung jawab pengurus KBI KSB, bukan diserahkan kepada pengurus provinsi.
“Cukup besar anggaran yang telah digelontorkan untuk persiapan Porprov. Kenapa dengan tiba-tiba dipindahkan dengan alasan yang tidak benar. Arogan pengurus Kick Boxing NTB mengusulkan pemindahan venue ke Mataram,” tegasnya.
Meski merasa kecewa atas keputusan tersebut, Santri memastikan polemik ini tidak akan memengaruhi komitmennya mendampingi atlet Kick Boxing Kabupaten Sumbawa Barat. Ia menegaskan target meraih medali tetap menjadi prioritas utama meski pertandingan tidak lagi digelar di daerahnya.
“Saya tidak gila menjadi ketua cabor, tetapi semangat mengejar target perolehan medali tidak boleh surut meskipun dipindahkan lokasi pelaksanaan Porprov,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak KONI NTB maupun pengurus Kick Boxing tingkat provinsi belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pemindahan venue maupun keputusan pemberhentian Ketua KBI Kabupaten Sumbawa Barat. (cdn.wan**)






