
SUMBAWA BARAT, CDN – Kain tenun lokal Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) berpeluang mendapatkan pasar yang lebih luas. Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat tengah menyiapkan kebijakan yang mewajibkan aparatur sipil negara (ASN) mengenakan pakaian berbahan tenun daerah satu hari dalam sepekan. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pemasaran produk perajin sekaligus menjadikan tenun sebagai salah satu penggerak ekonomi kreatif daerah.
Rencana tersebut mengemuka dalam kegiatan Lomba Fashion Show Pesona Tenun Sumbawa Barat 2026 di Halaman Graha Fitrah, Senin (26/10/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-23 KSB itu bukan sekadar ajang peragaan busana, melainkan juga momentum untuk memperkenalkan potensi tenun lokal kepada masyarakat luas.

Wakil Bupati Sumbawa Barat, Hj. Hanipah, S.Pt., M.M.Inov., membuka kegiatan yang diikuti 76 peserta dari berbagai kalangan. Mereka berasal dari organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, tenaga pendidik tingkat SD hingga SMA, serta desainer, perajin, dan model lokal yang turut memeriahkan peragaan busana berbahan tenun khas daerah.
Rencana penggunaan tenun oleh ASN menjadi salah satu langkah yang berpotensi menciptakan permintaan pasar secara rutin. Jika nantinya ditetapkan melalui Peraturan Bupati (Perbup), pemanfaatan tenun tidak lagi terbatas pada acara resmi, peringatan hari besar, atau kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas kedinasan setiap pekan.
Kebijakan tersebut juga berpeluang membuka ruang ekonomi yang lebih besar bagi para perajin. Meningkatnya kebutuhan kain tenun dapat memperluas kesempatan pemasaran, mendorong pertumbuhan usaha kerajinan, serta menciptakan peluang kerja bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksi hingga penjualan produk tenun.

“Pelestarian budaya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kita tidak hanya ingin tenun Sumbawa Barat dikenal sebagai identitas daerah, tetapi juga menjadi sumber penghasilan, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.” Hj. Hanipah, S. Pt., M.M.Inov
Namun, perluasan pasar harus diimbangi dengan kesiapan para perajin dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Ketersediaan produk, kualitas kain, variasi motif, kenyamanan bahan, dan harga yang sesuai menjadi faktor penting agar tenun lokal mampu bersaing sekaligus tetap terjangkau bagi masyarakat.
Karena itu, Wakil Bupati mendorong Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) KSB untuk memperkuat pelatihan keterampilan menenun. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha kerajinan berbasis potensi lokal.
Regenerasi penenun juga menjadi tantangan penting dalam menjaga keberlanjutan industri tenun KSB. Kehadiran kelompok-kelompok penenun baru diperlukan agar keterampilan tradisional tidak terputus antargenerasi. Di saat yang sama, pengembangan motif dan inovasi desain perlu terus dilakukan tanpa menghilangkan identitas budaya yang menjadi ciri khas tenun Sumbawa Barat.
Melalui fashion show, tenun tradisional diperkenalkan dalam bentuk rancangan busana yang lebih modern dan beragam. Kreativitas para peserta memperlihatkan bahwa kain tenun dapat dikembangkan menjadi pakaian yang menarik untuk berbagai kesempatan, baik kegiatan formal maupun aktivitas lainnya, tanpa meninggalkan nilai budaya daerah.
Pengembangan tenun tersebut sejalan dengan tema Harlah ke-23 KSB, yakni “Ekonomi Tumbuh, Sumbawa Barat Maju”. Tema ini menjadi relevan dengan upaya menghubungkan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat, terutama bagi perajin, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta kelompok usaha kreatif di daerah.
Rangkaian Fashion Show Pesona Tenun Sumbawa Barat 2026 berlangsung hingga malam hari. Selain menyaksikan peragaan busana, masyarakat juga dapat mengunjungi stan kain tenun dan berbagai produk UMKM lainnya. Kehadiran stan tersebut memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau calon pembeli secara langsung.

Ke depan, keberhasilan pengembangan tenun KSB tidak hanya ditentukan oleh kegiatan promosi atau rencana kewajiban berpakaian bagi ASN. Dukungan terhadap pelatihan perajin, peningkatan kualitas produksi, inovasi desain, dan perluasan jaringan pemasaran juga diperlukan agar industri tenun mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Rencana Perbup tentang penggunaan tenun oleh ASN pun masih perlu ditindaklanjuti secara resmi agar dapat memberikan kepastian kebijakan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi perajin lokal. (cdn.wan)
