Poto Tano Punya Segalanya: Dari Surga Wisata hingga Peluang Investasi Global

Poto Tano Punya Segalanya: Dari Surga Wisata hingga Peluang Investasi Global

POTO TANO, CDN – Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), bukan sekadar gerbang masuk menuju wilayah di ujung barat Pulau Sumbawa. Kawasan ini menyimpan hidden paradise berupa bentang alam eksotis, potensi pertanian, kekayaan laut, hingga peluang investasi yang terbuka bagi dunia.

Desa Mantar, yang dikenal sebagai Negeri di Atas Awan, menjadi salah satu magnet pariwisata unggulan. Dari dataran tinggi, wisatawan disuguhkan panorama awan putih yang menyelimuti lembah, garis pantai yang membentang, hingga pemandangan matahari terbenam dengan siluet Gunung Rinjani saat cuaca mendukung. Kondisi geografisnya juga menarik bagi pengembangan wisata petualangan dan olahraga dirgantara.

Tak kalah memikat, Pulau Kenawa menawarkan hamparan savana, bukit kecil, dan panorama laut yang menjadi daya tarik wisatawan. Pulau ini kerap menjadi pilihan pencinta alam untuk berkemah maupun mencari ketenangan.

Akses penyeberangan melalui dermaga rakyat Poto Tano relatif mudah dengan biaya yang terjangkau, sehingga membuka peluang pengembangan community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat.

Di luar sektor pariwisata, Poto Tano memiliki hamparan lahan pertanian jagung yang luas dan menjadi penopang ekonomi masyarakat. Potensi perikanan juga menyimpan peluang besar untuk dikembangkan, terutama melalui pengolahan hasil laut dan peningkatan nilai tambah. Kehadiran perusahaan tambak udang yang memberdayakan tenaga kerja lokal turut menjadi bagian dari dinamika ekonomi kawasan tersebut.

Potensi Poto Tano semakin menarik dengan kunjungan delegasi Australian Institute of Marine Science (AIMS), masyarakat Kepulauan Selat Torres, Australia, serta National University of Singapore (NUS). Pertemuan tersebut menjadi ruang global collaboration atau kolaborasi lintas negara dalam membahas tata kelola perikanan berkelanjutan dan pengembangan pariwisata pesisir.

Diskusi tersebut menekankan pentingnya menyeimbangkan pertumbuhan pariwisata dengan kelestarian lingkungan, keberlangsungan mata pencaharian, serta kehidupan sosial masyarakat pesisir. Pendekatan sustainable coastal tourism dinilai relevan agar pengembangan destinasi wisata tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Dalam pertukaran pengalaman itu, delegasi Kepulauan Selat Torres memperkenalkan kalender tradisional yang digunakan masyarakat untuk menentukan waktu terbaik memancing dan bercocok tanam berdasarkan pergerakan rasi bintang serta arah angin. Pengetahuan tersebut menjadi contoh bagaimana local wisdom atau kearifan lokal dapat berperan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Delegasi Australia dan Singapura juga memperkenalkan pemanfaatan limbah laut melalui kerajinan berbahan jaring bekas. Material yang tidak lagi digunakan diolah menjadi bentuk gurita, lobster, dan buah kelapa. Inisiatif ini mencerminkan konsep circular economy, yakni pemanfaatan kembali material untuk mengurangi sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi kreatif.

Bagi masyarakat Poto Tano, pertukaran pengetahuan tersebut membuka kesempatan untuk mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Jika ditindaklanjuti melalui pendampingan dan akses pasar, pengolahan limbah laut berpotensi menjadi kegiatan produktif yang mendukung pariwisata sekaligus menambah penghasilan masyarakat pesisir.

Camat Poto Tano, Muhlis, S. Pd

Kepala Kecamatan Poto Tano, Muhlis, S.Pd., menyambut positif kunjungan delegasi lintas negara tersebut. Ia menilai pertukaran ilmu dan pengalaman dapat menjadi modal penting untuk memperkuat pengelolaan perikanan serta mendorong pembangunan kawasan pesisir yang berkelanjutan.

“Kedatangan delegasi lintas negara ini tentunya membawa ilmu yang sangat penting untuk diterapkan masyarakat nelayan Poto Tano ke depannya. Kedatangan delegasi ini kita harapkan bersifat kontinu dan mengarah pada satu pemahaman untuk menjalin kerja sama yang lebih erat,” ungkap Muhlis.

Menurutnya, Poto Tano memiliki kondisi yang kondusif dan masyarakat yang terbuka terhadap kehadiran investor, peneliti, maupun pihak lain yang ingin bertukar pengetahuan. Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kunjungan semata, tetapi berlanjut menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Muhlis menjelaskan, pemerintah kecamatan memiliki peran yang lebih terbatas dalam proses investasi karena sejumlah kewenangan berada pada pemerintah kabupaten. Meski demikian, pihaknya siap mendukung terciptanya suasana aman dan nyaman bagi para tamu serta investor yang datang untuk menjajaki peluang kerja sama di Poto Tano.

Dengan potensi wisata Mantar dan Kenawa, sektor pertanian jagung, serta kekayaan perikanan, Poto Tano memiliki modal untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Tantangan berikutnya adalah membangun sustainable development atau pembangunan berkelanjutan yang mampu menghubungkan potensi alam, investasi, inovasi, dan kesejahteraan warga.

Poto Tano bukan hanya gerbang menuju Sumbawa Barat, melainkan kawasan dengan peluang besar untuk tumbuh melalui kolaborasi global. Dengan sinergi pemerintah, masyarakat, peneliti, dan investor, potensi lokal diharapkan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat jangka panjang. (cdn.wan)