CDN, Sumbawa – Alarm peringatan bagi generasi muda menggema dari Istana Bala Kuning, Minggu malam (5/4). Di tengah khidmat dzikir dan doa bersama, Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah, melontarkan pesan tegas: adat dan agama harus menjadi benteng utama menghadapi ancaman moral di era digital.
Momentum peringatan 15 tahun penobatan Sultan Sumbawa itu tidak sekadar seremoni. Di hadapan tokoh adat dan masyarakat, Amar menyoroti ancaman nyata yang kini mengintai generasi, mulai dari judi online hingga prostitusi daring.
“Ini bukan ancaman biasa. Generasi kita membutuhkan benteng yang kuat, dan itu ada pada adat dan agama,” tegasnya.

Amar menegaskan, identitas Tau Samawa adalah kekuatan yang tidak boleh luntur oleh arus modernisasi. Ia mengingatkan bahwa meskipun Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat terpisah secara administratif, keduanya tetap berada dalam satu ikatan sejarah dan adat Kesultanan Sumbawa.
Menurutnya, satu dekade awal pembangunan di Sumbawa Barat telah berhasil meletakkan fondasi peradaban berbasis nilai-nilai keagamaan dan adat, yang kini harus terus diperkuat.
Pada fase berikutnya, penguatan gotong royong atau basiru menjadi strategi utama. Bahkan, nilai tersebut telah diformalkan dalam kebijakan daerah sebagai arah pembangunan.
“Tradisi bukan sekadar warisan, tapi instrumen pembangunan,” ujar Amar.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan jauh lebih kompleks. Tanpa penguatan nilai, generasi muda dinilai rentan tergerus oleh perubahan zaman yang kian cepat.

Senada dengan itu, Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, menekankan pentingnya menjadikan titah Sultan sebagai pedoman dalam menjaga marwah Tau Samawa dan memperkuat persatuan.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan manusia dan alam melalui nilai-nilai lokal yang selaras dengan pembangunan berkelanjutan.
Acara yang berlangsung hingga larut malam ini dihadiri sejumlah pejabat daerah dan tokoh adat dari Sumbawa dan Sumbawa Barat. Kehadiran mereka mempertegas bahwa adat dan spiritualitas masih menjadi simpul penting dalam menjaga arah pembangunan dan identitas daerah.

Dari Bala Kuning, satu pesan menguat: di tengah derasnya perubahan zaman, Tau Samawa dituntut tetap teguh pada akar adat dan nilai keimanan sebagai penopang masa depan. (cdn.wan)






