Warisi Apinya, Jangan Abunya. Sukarno Dimata Pencinta Dan Pengagumnya

Warisi Apinya, Jangan Abunya. Sukarno Dimata Pencinta Dan Pengagumnya

Refleksi 119 Tahun Bung Karno. Oleh Ari Arfani, S.Pd.

Penulis adalah Pencinta Sukarno, penulis adalah organisatoris yang banyak membaca dan mempelajari sepak terjang Bung Karno. Penulis kini bekerja menjadi Staff Ahli Ketua DPRD KSB

Bersama dengan kelahiranku menyingsinglah fajar dari suatu hari yang baru dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru… “Bung Karno”.

Soekarno mencatat ada tiga ramalam emas yang terngiang jelas di otaknya.
1. Pertama diucapkan oleh ibundanya sendiri, Ida Ayu Nyoman Rai atau kita kenal sebagai idayu. “Engkau sedang memandangi fajar, nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkan mu jam setengah enam pagi di saat fajar menyingsing. Kita orang jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan disaat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau melupakan nak, engkau ini putra dari sang Fajar.

2. Douwes dekker diusia beliau yang menginjak 50 tahun: “tuan-tuan, saya tidak dikehendaki diberi gelar veteran, sampai saya masuk ke liang kubur saya ingin menjadi pejuang untuk Republik Indonesia. Saya telah berjumpa dengan pemuda Sukarno. Umur saya semakin lanjut, dan bila mana datang saatnya saya akan mati, saya sampaikan kepada tuan-tuan, bahwa adalah kehendak saya supaya Sukarno yang menjadi pengganti saya. “Anak muda ini, akan menjadi juru selamat dari rakyat Indonesia di masa yang akan datang”.

3. Haji Oemar Said (H.O.S) Cokroaminoto, malm itu hujan turun membasahi Surabaya. Usai shalat isya beliau berdoa lama sebelum akhirnya selesai dan berjalan menghampiri keluarganya. Tak lama kemudian, dengan raut wajah serius, suara yang dalam, Cokro berkata kepada seluruh keluarganya,: “ikutilah anak ini. Dia diutus oleh Tuhan untuk menjadi Pemimpin besar kita. Aku bangga karena telah memberikan tempat berteduh di rumahku”.

Ir. Soekarno. Proklamator Bangsa Indonesia


Menurut Ari, ada benar bahwa kata-kata ini berubah menjadi kenyataan. Tetapi kita jangan sekali-kali berfikir bahwa kepemimpinan Sukarno muncul dari ketiadaan. Semua didapat karena sikap dan peran politik si Bung Besar melalui segala proses penyejarahan.

“Perlu diingat Bung Karno sangat percaya bahwa proses gerakan nasional tidak lahir karena hasutan satu atau dua orang pemimpin, melainkan keadaan objektif yang menyebabkan perjuangan kolektif segenap lapisan rakyat Indonesia, mulai dari petani hingga priyayi terpelajar yang sekian ratus tahun tertindas sistem kolonial. Bahkan aku berkata Seribu Sukarno tidak akan bisa mengadakan ini (kemerdekaan) jika ini bukan kehendak masyarakat dan sejarah. Jadi jelas kesatuan dan kesamaan dalam perjuangan lah yang melahirkan kemerdekaan yang hingga kini kita rasakan”.

“Tidak ada bangsa yang mampu merubah nasib, tanpa ia terlebih dahulu berani memperjuangkan”, ini pesan Bung Karno yang dikutip dari Al-Qur’an surat Ar-rad: 11.

Pesan ini berulang-ulang disampaikan oleh Bung Karno semata-mata untuk terus membakar semangat api juang bangsa Indonesia.

Menurut Ari, “untuk memperjuangankan semangat bangsa Indonesia, semangat saja saat itu belum cukup tetap namun dibutuhkan pengetahuan. Jadi benar yang disampaikan Bung Karno bahwa jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, sebab jika engkau melupakan sejarah perjuangan mu paling-paling hanya akan berupa amuk, tak ubahnya seperti kera kejepit dalam gelap”.

Ari berpesan, “119 Tahun Bung Karno sudah sepantasnya pesan itu masih sangat relevan. Untuk membangun masa depan, diperlukan kerja yang tak kenal lelah untuk menggali gagasan, meneladani tindakan serta mengambil pelajaran dari kesalahan yang dilakukan pendiri bangsa. Mari kita warisi api nya, jangan abu nya. Dengan demikian segala perjuangan Bung Karno beserta segenap bangsa Indonesia (saat itu) tidak bernilai sia-sia”.

Perlu diingat, bahwa Orang besar Seperti Bung Karno ini selalu memiliki Dualisme yang Paradoks, beliau dicintai sekaligus dibenci.