
TALIWANG, CDN – Siapa sangka, sebuah grup band pelajar dari SMA Negeri 2 Sumbawa Besar justru menjadi salah satu magnet perhatian dalam gelaran Rockmasketeer Festival Sumbawa Barat 3. Namanya Wild Horses (Kuda Liar). Mereka datang sebagai pendatang, tetapi berhasil menciptakan gaung yang tak bisa dianggap remeh.
Festival musik yang digagas Benny Tanaya bersama rekan-rekannya itu bukan hanya menghadirkan dentuman musik rock selama dua malam di Hanipati Resto, Taliwang. Lebih dari itu, panggung ini menjadi ruang pembuktian bagi musisi muda NTB untuk menunjukkan kemampuan, karakter, dan keberanian mereka bersaing.
Kini, kompetisi semakin mengerucut. Sejumlah grup band berhasil melangkah ke babak final yang akan digelar Sabtu malam (7/11/2026). Persaingan dipastikan semakin panas. Namun, di tengah ketatnya kompetisi, Wild Horses justru sudah mencuri perhatian bahkan sebelum hasil akhir diumumkan.

Buktinya, beberapa media online lokal di Sumbawa Barat menempatkan grup band ini sebagai sorotan utama pemberitaan mereka. Sebuah pencapaian yang menarik untuk ukuran grup band pelajar dari luar daerah.
Tentu, tampil di panggung festival saja bukan perkara mudah. Apalagi mencuri perhatian media lokal di daerah tempat mereka sedang berkompetisi. Artinya, ada sesuatu yang berhasil mereka tampilkan sehingga kehadirannya tidak sekadar lewat sebagai peserta.
Lima Personel, Satu Karakter yang Berbeda
Wild Horses diperkuat Yadit Fatihurrahmat sebagai vokalis, Muhammad Rizki Nasrulloh pada bass, Dilaga sebagai gitaris, Vinsen di posisi drummer, serta Dike Zutto yang memainkan instrumen biola.
Kehadiran biola di tengah komposisi musik rock menjadi salah satu elemen pembeda. Mereka tidak sekadar mengandalkan kerasnya distorsi gitar atau gebukan drum, tetapi juga menghadirkan warna musikal yang memberi karakter tersendiri.
Di sinilah daya tarik Wild Horses. Mereka datang bukan hanya untuk meramaikan festival, melainkan membawa identitas dan menawarkan sesuatu yang berbeda.
Namun, sorotan media tentu bukan ukuran kemenangan. Panggung final tetap menjadi tempat pembuktian sesungguhnya. Popularitas sesaat harus dijawab dengan kualitas penampilan.
Rockmasketeer, Lebih dari Sekadar Urusan Musik
Di balik fenomena Wild Horses, ada hal yang jauh lebih besar untuk dibicarakan: keberanian menghadirkan ruang ekspresi bagi generasi muda.
Benny Tanaya dan kawan-kawan layak mendapat apresiasi karena telah membuka panggung kompetisi yang mempertemukan talenta-talenta musik dari berbagai daerah di NTB. Ruang seperti ini tidak tumbuh begitu saja. Ia membutuhkan keberanian, konsistensi, dan orang-orang yang mau bekerja di balik layar.
Dampaknya juga tidak berhenti pada urusan hiburan. Festival musik seperti ini memberi alternatif kegiatan positif bagi pelajar dan anak muda. Energi, kreativitas, dan minat mereka diarahkan ke ruang yang produktif.
Di tengah tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, termasuk ancaman penyalahgunaan narkoba, menghadirkan ruang kreativitas dan aktivitas positif merupakan langkah yang patut didukung.
Anak muda membutuhkan panggung, bukan sekadar nasihat. Mereka membutuhkan ruang untuk berkompetisi, bukan hanya larangan untuk melakukan hal-hal negatif.
Ekonomi Lokal Ikut Berdentum
Ada satu sisi lain yang tidak boleh luput dari perhatian: perputaran ekonomi masyarakat.
Kehadiran peserta, pendamping, dan insan musik dari berbagai daerah memberikan efek berantai bagi sektor penginapan, UMKM, restoran, kuliner, hingga usaha jasa lainnya di Sumbawa Barat.
Alia, pemilik penginapan Sabara yang dikenal dengan konsep ikonik dan futuristik, mengaku ikut merasakan manfaat penyelenggaraan festival tersebut.
Kepada media, ia menyampaikan bahwa penginapannya telah dipesan oleh salah satu grup band dari luar Sumbawa Barat. Baginya, kegiatan seperti Rockmasketeer memberikan peluang ekonomi sekaligus menghadirkan suasana yang lebih hidup bagi daerah.
Dukungan pelaku usaha seperti ini menjadi sinyal bahwa kegiatan berbasis kreativitas anak muda juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Jangan Biarkan Panggung Kreativitas Berhenti di Sini
Rockmasketeer Festival Sumbawa Barat 3 sesungguhnya sedang menunjukkan sebuah pesan penting: Sumbawa Barat tidak boleh hanya dikenal karena potensi tambang dan sumber daya alamnya.
Daerah ini juga memiliki ruang untuk tumbuh melalui seni, budaya, kreativitas, dan industri ekonomi berbasis kegiatan masyarakat.
Kehadiran musisi muda dari berbagai wilayah NTB menjadi bukti bahwa regenerasi musik terus berjalan. Sumbawa Barat pun memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu ruang pertemuan talenta-talenta tersebut.
Karena itu, keberhasilan Rockmasketeer tidak semestinya hanya diukur dari siapa yang menjadi juara pada malam final. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah festival ini berakhir, ada anak muda yang semakin berani berkarya, ada komunitas yang semakin kuat, dan ada pelaku usaha yang merasakan manfaatnya.
Wild Horses mungkin sedang mencuri perhatian. Namun, pesan yang lebih besar justru datang dari panggung yang mempertemukan mereka.
Sebab, sebuah festival yang baik bukan hanya menghasilkan pemenang. Ia harus mampu melahirkan talenta, menghidupkan ruang kreativitas, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Jangan sampai panggungnya megah, musiknya mengguncang, tetapi setelah lampu dipadamkan, tidak ada jejak yang ditinggalkan. Rockmasketeer harus terus hidup, bukan hanya sebagai festival, tetapi sebagai gerakan kreativitas anak muda NTB.(cdn.wan)
